Rumah Karo

28 03 2010

Rumah Adat

Rumah Karo

RUMAH adat Karo oleh penduduk setempat dinamakan siwaluh jabo.
Gedung berbentuk rumah panggung itu, pada waktu dulu kala menjadi
rumah tinggal masyarakat Karo. Tiang-tiang penyangga rumah panggung,
dinding rumah, dan beberapa bagian atas, semuanya terbuat dari kayu.
Bagian semacam teras rumah -juga berbentuk panggung-, tangga naik ke
dalam rumah, dan penyangga atap, terbuat dari bambu. Sedangkan atap
rumah sendiri, semuanya menggunakan ijuk.

Di bagian paling atas atap rumah adat, kedua ujung atap masing-
masing dilengkapi dengan dua tanduk kerbau. “Tanduk itu dipercaya
penduduk sebagai penolak bala,” ujar Darusalam Ginting (35),
penduduk setempat yang biasa mengantar turis.

Satu rumah ditinggali oleh lebih dari satu KK (kepala
keluarga), dalam satu ruangan besar. Di gedung siwaluh jabo yang
dikenal sebagai “rumah raja” umpamanya. Saat ini rumah yang dahulu
kala konon menjadi rumah tinggal Raja Karo itu, ditempati empat KK.

Tiap KK bisa ditandai dengan jumlah dapur yang juga berada di dalam
ruangan. Empat kelambu atau tirai kain persegi dan menempel di
bagian dinding, juga menandakan rumah ditinggali empat KK.
Di dalam kelambu tanpa ranjang atau dipan itu, menjadi tempat
tidur bapak dan ibu. Sedangkan anak-anak tidur di tikar sebelah luar
kelambu, tidak jauh dari dapur. Sedangkan empat dapur dalam ruangan
yang sama itu, masing-masing terletak sekitar empat meter dari empat
penjuru ruangan.

Dapur bagi masyarakat Karo juga mempunyai arti. Tungku tempat
menaruh alat memasak, terdiri atas lima buah batu. Menurut penduduk
setempat lainnya, Mustarif Sinulingga (20), kelima batu menandakan
adanya lima marga dalam suku Karo yang mendiami Lingga, yakni
Sinulingga, Ginting, Sembiring, Tarigan, dan Peranginangin.

Selain siwaluh jabo, gedung tua lainnya adalah kuntur-kuntur,
sapo ganjang, dan grinten. Rumah adat-rumah adat ini menjadi
pelengkap dari satu komunitas masyarakat Karo dahulu kala. Seperti
juga siwaluh jabo, semua bangunan ini berbentuk rumah panggung.

Kuntur-kuntur adalah gedung pertemuan pemuka-pemuka masyarakat
Karo, untuk memecahkan berbagai masalah. Letaknya, sekitar 40 meter
di sebelah timur dari “rumah raja”. Bentuknya lebih jauh lebih kecil
dibandingkan siwaluh jabo.

Sapo ganjang bentuknya hampir sama dengan kuntur-kuntur, tapi
dalam ukuran sedikit lebih kecil lagi. Gedung ini disediakan
penduduk, khusus untuk pemuda-pemuda lajang yang ingin tidur atau
beristirahat.

Rumah Adat


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: