Pulau Damai

18 09 2010

Pulau Serangan & Rumah Adat Suku Bugis

Jembatan yang menghubungkan pulau serangan
Pulau Serangan merupakan model yang positif bagaimana seharusnya sebuah toleransi kehidupan beragama ditumbuhkembangkan. Di pulau ini, antara penduduk beragama Hindu dengan penduduk pendatang dari Suku Bugis-Makassar yang beragama Islam, hidup rukun berdampingan. Tidak pernah terjadi bentrok/pertengkaran antar kedua pemeluk agama tersebut di pulau ini. Mereka hidup rukun dan saling membantu satu sama lain.
Wujud toleransi antar umat beragama terlihat pada saat hari-hari besar Agama Hindu dan Islam. Mereka saling menghantarkan makanan dan sama-sama menjaga suasana kondusif agar perayaan hari-hari besar keagamaan itu berlangsung dengan khusyuk dan khidmat. Mereka saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Kearifan lokal yang diwariskan generasi pendahulu mereka tetap terjaga dengan baik sampai saat ini. Sebagai buktinya, di Pulau Serangan terdapat sebuah pura besar (Pura Sakenan) dan sebuah masjid (Masjid As Syuhada) di Kampung Bugis.
Rumah Adat
Rumah bugis memiliki keunikan tersendiri, dibandingkan dengan rumah panggung dari suku yang lain ( sumatera dan kalimantan ). Bentuknya biasanya memanjang ke belakang, dengan tanbahan disamping bangunan utama dan bagian depan [ orang bugis menyebutnya lego –lego.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: